Kebakaran Papua Nugini mencapai rekor saat El Niño kuat

  • Kebakaran di Papua Nugini mencapai level rekor pada 19 Oktober 2026 saat El Niño berstatus kuat.
  • Asap kebakaran membuat penerbangan tertunda, sekolah ditutup, dan pejabat mengimbau penggunaan masker.
  • Citra VIIRS menangkap bagian selatan New Guinea pada 11 Oktober 2026, dan GFED memantau kebakaran serta emisi.
  • Data kekeringan Trans-Fly mencatat periode 90 hari hanya 5 hingga 10 persen dari normal pada Agustus 2026.
  • Kehilangan hutan primer di Papua Indonesia mencapai 27.000 hektare pada 2025, tertinggi sejak 2017.

Apa yang terjadi

Kebakaran terjadi di New Guinea dengan aktivitas api yang luar biasa tinggi, dan kebakaran Papua Nugini mencapai level rekor. El Niño berstatus kuat, dan cuaca sangat kering disebut sebagai produk sampingan El Niño. Dampak asap membuat penerbangan tertunda, sekolah ditutup, serta pejabat mengimbau masker.

Apa yang kami ketahui

Status kebakaran tercatat untuk New Guinea, sementara El Niño berstatus kuat. Data kekeringan New Guinea mencantumkan September 2026 dan Oktober 2026, dan cuaca sangat kering disebut sebagai produk sampingan El Niño.

VIIRS menangkap citra bagian selatan New Guinea pada 11 Oktober 2026.

Polusi udara menyebabkan penerbangan tertunda dan sekolah ditutup. Pejabat juga mengimbau penggunaan masker.

Kebakaran Papua Nugini pada 19 Oktober 2026 mencapai level rekor. Emisi karbon dari Papua Indonesia tercatat sebagai yang ketiga tertinggi.

GFED adalah sistem pemantauan emisi kebakaran yang dipimpin pengembangannya oleh Guido van der Werf. Kerangka pemodelan berbasis satelit ini memakai penginderaan jauh, karakteristik vegetasi, dan informasi lain untuk memperkirakan kebakaran serta emisi selama hampir tiga dekade.

Data wilayah Trans-Fly mencatat periode 90 hari, nilai 5 hingga 10 persen dari normal, dan Agustus 2026. Status kekeringan mencakup gagal panen dan kekurangan air.

Sebagian besar kebakaran di New Guinea dinyalakan manusia, antara lain untuk kebakaran tanaman, pemeliharaan padang rumput, deforestasi dan pembukaan lahan, serta berburu. Api yang dikelola dapat menyebar tak terkendali menjadi kebakaran liar, dan aktivitas api tergolong luar biasa tinggi; kebakaran di Sumatra relatif rendah.

Papua disebut sebagai batas deforestasi baru. Lahan Papua Indonesia dibuka untuk perkebunan, budidaya, ekspansi perkotaan, dan pertambangan; kehilangan hutan primer mencapai 27.000 hektare pada 2025, hampir dua kali lipat total 2024 dan tertinggi sejak 2017.

Mengapa ini penting

Bagi pembaca yang memantau industri lunar, fakta-fakta ini tidak memberikan kaitan langsung dengan NASA. Unsur yang dapat dicatat adalah penggunaan citra VIIRS dan kerangka GFED untuk memantau kebakaran serta emisi.

Sumber

  1. 1.NASA News Releases

Ditulis oleh sistem AI berdasarkan sumber di atas dan diperiksa secara otomatis; tanpa penulis perorangan. Cara kerja situs ini